Senin, 03 Juli 2017

Benarkah CEO Starbucks Mengatakan, "Yang Menolak LGBT Silakan Minum Kopi di Tempat Lain"?



Menarik menelisik kabar terkait pemboikotan Starbucks yang saat ini sedang ramai di Indonesia. Pemboikotan terjadi dikarenakan Starbucks secara terang-terangan mendukung pernikahan sesama jenis.

Dengan penduduk mayoritas Muslim, masyarakat Indonesia yang memboikot Starbucks cukup masuk akal, setiap penganut agama berhak menentang sesuatu yang dilarang dalam ajaran agamanya. Bahkan seorang mantan pendeta evangelis dan aktivis konservatif David Barton, berbicara di Whitesburg Baptist Church mengatakan bahwa "orang Kristen tidak boleh minum Starbucks karena mereka mendukung pernikahan sesama jenis."


Ada hal menarik tentang pernyataan CEO Starbucks, Howard Schultz, rumor yang beredar dirinya mengatakan: "Siapa pun yang menolak pernikahan sesama jenis bisa minum kopi di tempat lain." Media online Kumparan dalam sebuah artikel menulis bahwa CEO Starbucks mengeluarkan pernyataan tersebut kepada konsumen Starbucks di seluruh dunia.

Konon, ia juga mengatakan kepada konsumen Starbucks di seluruh dunia: "Siapa pun yang menolak pernikahan sesama jenis bisa minum kopi di tempat lain." Ini pernyataan yang memberi pelajaran bagi kita bangsa Indonesia yang katanya berideologi Pancasila, bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Republika online juga menulis hal yang sama dalam sebuah artikel berita berjudul "Starbucks Dukung Penuh Pernikahan Sesama Jenis."

CEO Starbucks, Howard Schultz mengatakan orang-orang yang hanya mendukung pernikahan beda jenis dan mengabaikan pernikahan sesama jenis tak diperlukan di rantai kopi ini. Schultz yang dikenal sangat akomodatif terhadap komunitas LGBT menyatakan bahwa siapapun yang menolak pernikahan sesama jenis bisa minum kopi di tempat lainnya. Sentimennya ini tampaknya diarahkan kepada pemegang saham juga.

Apakah CEO Starbucks pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu?

Kembali ke tahun 2013, pada pertemuan Starbuck tahunan di Seattle, pemegang saham mengeluh kepada kepala eksekutif, Howard Schultz, bahwa perusahaan telah banyak kehilangan pelanggan karena mendukung pernikahan sesama jenis. Tahun sebelumnya, Starbucks mengumumkan dukungan untuk referendum pernikahan sesama jenis di Washington. Dukungan tersebut direspon oleh Organisasi Nasional untuk Pernikahan dengan meluncurkan pemboikotan Starbucks.

Para pemegang saham mulai resah penjualan dan pendapatan mereka menjadi menurun akibat perusahaan secara terang-terangan mendukung pernikahan sesama jenis. Namun, Schlutz menanggapinya dengan santai, ia mengatakan bahwa setiap keputusannya adalah keputusan ekonomi.


Dalam pertemuan itu Schultz menanggapi pertanyaan pemegang saham, ia mengatakan: "Jika Anda merasa bahwa Anda bisa mendapatkan pengembalian yang lebih tinggi sebanyak 38% yang Anda dapatkan tahun lalu, ini negara bebas. Anda dapat menjual saham Anda di Starbucks dan membeli saham di perusahaan lain. Terima kasih banyak."

"Not every decision is an economic decision. Despite the fact that you recite statistics that are narrow in time, we did provide a 38% shareholder return over the last year. I don't know how many things you invest in, but I would suspect not many things, companies, products, investments have returned 38% over the last 12 months. Having said that, it is not an economic decision to me. The lens in which we are making that decision is through the lens of our people. We employ over 200,000 people in this company, and we want to embrace diversity. Of all kinds."

At that point the audience interrupted in cheers and applause. Then Schultz concluded, "If you feel, respectfully, that you can get a higher return than the 38% you got last year, it's a free country. You can sell your shares in Starbucks and buy shares in another company. Thank you very much." More cheers.

Itu adalah satu-satunya pernyataan CEO Starbucks, Howard Schlutz, terkait efek dukungan pernikahan sesama jenis. Schultz tidak pernah mengatakan kepada konsumen Starbucks di seluruh dunia yang menentang pernikahan sesama jenis untuk tidak meminum kopi di Starbucks.

Schlutz juga tidak pernah mengeluarkan pernyataan sentimen kepada pemegang saham, ia hanya memberikan pilihan dan hak pemegang saham apakah tetap menanam investasi atau menjual saham Starbucks mereka. Laporan palsu yang menulis pernyataan Schlutz mulai beredar di facebook pada tahun 2013, laporan dari Forbes telah dipelintir hingga menyebar luas.



Pernyataan Schlutz telah dipelintir seakan dirinya menantang konsumen Starbucks yang memboikot mereka. Beberapa outlet berita online internasional maupun lokal (Indonesia) telah menyesatkan pembaca dengan mengubah laporan asli, hingga masyarakat terpancing dengan menggunakan kesalahan pernyataan Schlutz sebagai alasan dibalik pemboikotan Starbucks.

Video pernyataan CEO Starbucks, Howard Schlutz, dapat Anda lihat di sini.

Pemboikotan Starbucks terjadi secara global, sejak pertama kali perusahaan mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mendukung pernikahan sesama jenis (2012). Boikot pertama kali dilancarkan oleh kelompok anti-LGBT AS (Dump Starbucks), seperti Organisasi Nasional untuk Pernikahan.


Isu LGBT telah lama menjadi kontroversi global, dukungan perusahaan Starbucks kepada LGBT bukan tanpa konsekuensi, mereka harus siap ditentang oleh konsumennya. Starbucks bukanlah satu-satunya perusahaan pendukung LGBT, namun dukungan mereka terbilang cukup masif hingga mereka mendapat respon negatif.

Apapun pilihan Anda, apakah akan memboikot Starbucks atau memilih tidak memboikotnya, itu adalah hak Anda. Jika Anda memilih memboikot Starbucks, lakukanlah dengan benar dan jangan melakukan tindakan represif yang bisa merugikan diri sendiri. Dan jika Anda memilih tidak memboikot Starbucks, lakukan hal yang sewajarnya dan jangan menempatkan diri sebagai penentang.

Perbedaan pilihan jangan dijadikan sengketa hingga menimbulkan gesekan, sejatinya kita semua adalah saudara sebangsa dan setanah air. Jadilah seperti air dan minyak, walaupun mereka tidak pernah dapat bersatu, namun mereka dapat hidup berdampingan tanpa saling mengalahkan.

Salam YukViral.

Related Posts

Benarkah CEO Starbucks Mengatakan, "Yang Menolak LGBT Silakan Minum Kopi di Tempat Lain"?
4/ 5
Oleh